Saturday, May 21, 2011

Kisah Maryam binti Imran


Kelebihan Keluarga Imran

Maryam binti Imran, merupakan seorang hamba Allah yang lahir dari seorang insan bernama Hannah, yang bersuamikan Imran, seorang daripada pemuka-pemuka dan ulama Bani Israil.

Allah melebihkan darjat keluarga Imran berdasarkan surah ali Imran, surah ke-3 ayat ke 33 hingga 34;

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [3:33-34]


Kisah kelahiran Maryam boleh dilihat dalam surah yang sama, ayat yang ke 35 hingga 36;

(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmaqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk." [3:35-36]


Hannah menazarkan anak dalam kandungannya itu untuk berkhidmat di Baitulmaqdis. Setelah diketahui anak yang dilahirkannya itu merupakan anak perempuan, maka Hannah bingung bagaimana anaknya hendak berkhidmat di Baitulmaqdis sedangkan anaknya seorang perempuan.

Allah kemudian menerima nazar Hannah, dan Maryam berkhidmat di Baitulmaqdis seperti apa yang telah ibunya menazarkannya;

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariyya pemeliharanya. Setiap kali Zakariyya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariyya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. [3:37]


Nabi Zakariyya merupakan bapa saudara Maryam. Oleh kerana Imran telah meninggal dunia sebelum kelahiran Maryam, maka Nabi Zakariyya menjadi penjaga tetap Maryam sejak dari kecil. Pada suatu hari, ketika Nabi Zakariyya memasuki mihrab tempat Maryam duduk, Nabi Zakariyya melihat buah-buahan yang hanya terdapat pada musim dingin, tatkala ketika itu musim panas. Maka Nabi Zakariyya bertanya kepada Maryam, "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?". Maka Maryam menjawab "Makanan itu dari sisi Allah". Itulah antara kekuasaan Allah dalam pemberian rezeki kepada hambaNya Maryam. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Nabi Zakariyya yang telah larut usia serta isterinya mandul, masih tidak mempunyai cahaya mata. Tatkala melihat keajaiban itu;

Di sanalah Zakariyya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariyya, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." Zakariyya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". Berkata Zakariyya: "Berilah aku suatu tanda (bahawa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari". [3:38-41]


Maka, terjawablah doa Nabi Zakariyya untuk menimang cahaya mata dengan kelahiran Nabi Yahya. Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Allah mengangkat darjat Maryam melebihi perempuan-perempuan lain di zamannya;

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. [3:42-43]


Dan Maryam dipelihara oleh Nabi Zakariyya ketika di Baitulmaqdis, walaupun mendapat rebutan daripada golongan ulama lain untuk mendapat hak menjaga Maryam;

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. [3:44]


Mereka mengambil jalan penyelesaian dalam penjagaan Maryam dengan ditentukan melalui kaedah membaling anak panah ke dalam kolam, anak panah yang paling lama terapung di permukaan kolam adalah yang paling berhak menjaga Maryam. Allah Maha Besar, ditakdirkan Nabi Zakariyya memenangi lontaran anak panah tersebut.

Kemudian, berita kelahiran Isa putra Maryam pula dikhabarkan dalam ayat seterusnya;

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh." Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. [3:45-47]


Perutusan Isa putra Maryam adalah untuk menyeru manusia menyembah Allah subhanahu wa ta'ala;

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus". [3:48-51]


Pengajaran kisah Maryam;

1. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

"Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya" [ali Imran, 3:40]

2. Sebanyak mana tipu daya musuh Allah, Allah berkuasa untuk melawan kembali tipu daya mereka;

"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." [ali Imran, 3:54]

3. Rezeki itu hak milik Allah, bila-bila masa sahaja ia boleh ditarik dan ia boleh diberikan olehNya.

Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. [ali Imran, 3:37]

4. Nabi Isa merupakan utusan Allah, diutuskan untuk mengajar Injil dan mengesahkan kebenaran kitab terdahulu (Taurat), dan menyeru manusia menyembah kepada Allah, Tuhan yang satu.

Kata Isa putra Maryam;

"Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." [ali Imran, 3:51]

Kisah kelahiran Nabi Isa putra Maryam, mengenai khabaran Jibril kepada Maryam, dan proses kelahiran Nabi Isa di bawah pohon kurma, dan kisah Nabi Isa boleh bercakap sewaktu masih bayi, boleh juga dilihat dalam surah Maryam, surah ke 19, ayat 16 hingga 37.

Wallahu a'lam, semoga bermanfaat

Sunday, May 15, 2011

"Wahai Yahya, Ambillah Al-Kitab Itu Dengan Kekuatan"





Saya ingin berkongsi satu pengalaman saya.
Pada satu hari, ketika saya masih di Markaz Bahasa sebelum masuk ke Universiti Yarmouk, saya menghadapi masalah.Masalah itu adalah untuk mengikuti pelajaran "Mendengar" atau dalam bahasa Arabnya, kelas ini dinamakan kelas Istima'.

Agak sukar kerana biasanya, Sheikh saya di sekolah lama akan bercakap dalam bahasa Arab Fushah (bahasa asal) dan bercakap tidak berapa laju. Namun di dalam kelas Istima' ini, pensyarah yang mengajar saya, Dr Omar Okasha sering menggunakan video bertajuk "Mahatot". Video ini ibarat video National Geographic, tetapi sering menayangkan perihal atau keadaan masyarakat di negara Arab.

Percakapan dalam video itu nyata sukar untuk diikuti kerana ia menggunakan bahasa Arab campur.Sedikit bahasa Arab Fushah, dan sedikit bahasa Arab 'Ammi'. Malah percakapannya teramat-amat laju sehingga selalunya, telinga saya tidak dapat menangkap apa yang diucapkan oleh video itu. Malah bukan saya sahaja yang menghadapi masalah pendengaran ini, rakan2 Melayu & Turki yang lain turut berkongsi masalah yang sama.

Akhirnya saya mengambil inisiatif bertemu dengan Dr Omar Okasha. Saya memintanya agar ditukarkan video itu kepada tahap yang lebih mudah seperti kartun. Dia tersengih sahaja apabila mendengar permintaan saya.

Dia kata, "saya pakai video itu, sebab itulah kehidupan yang sebenar. Di universiti nanti, adakah doktor akan memperlahankan syarahannya semata-mata untuk kamu?. Mustahil."

Lalu saya berkata, "tetapi kuliah bahasa di sini amat mahal. Kalau saya gagal hanya kerana masalah pendengaran ini, maka saya akan susah."

Dia membalas. "Maka kamu kena berusaha. Berlatih untuk menangkap apa yang disampaikan. Latih telinga kamu."

Saya memberi alasan, "Susah Doktor, saya bukan Arab."

Doktor kata, "Tuhan kita berkata, 'Wahai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan kekuatan (bersungguh-sungguh).' "

Saya senyap. Doktor juga senyap, tetapi bibirnya menggaris senyum.

"Allah tidak berkata, 'Wahai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan kemalasan."Dia menambah.

Hati saya seperti dimasuki satu kefahaman baru.

Kemudian Doktor berkata kepada saya, "Belajar, belajar dan belajar."

Saya faham. Saya hanya memberikan dia alasan sedangkan dia sedang berusaha untuk mempertingkatkan ilmu dan diri saya. Sepatutnya saya perlu lebih bersungguh. Jika ada halangan, saya bukan perlu lari, tetapi saya perlu hadapi.

Tiada jalan senang dalam hidup ini. Tiada yang seratus peratus tenang dalam kehidupan ini. Semuanya memerlukan usaha. Semuanya memerlukan usaha yang gigih.

Alasan hanya akan menjadi halangan untuk melepasi limitasi diri.

Usaha dengan bersungguh-sungguh adalah ibarat senjata untuk merobohkan benteng limitasi itu.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, melainkan kaum itu mengubah dulu apa yang ada di dalam diri mereka." (ar-ra'd:11).

Kenapa saya tidak teguh di atas ayat ini?

"Sebenarnya manusia itu insan."

Itulah kata-kata guru saya. Insan bermaksud pelupa. Ya..saya terlupa. Saya cuai. Saya malas.

"Wahai Yahya, ambillah al-kitab itu dengan kekuatan (bersungguh-sungguh)." (Maryam:12).

Ayat ini terdapat dalam surah Maryam. Surah yang saya hafadznya dengan baik dan sering baca jika saya menjadi imam. Tidak sangka, ayat yang tidak sampai sejengkal jari saya ini, memberikan kesan yang besar untuk diri saya.

Saya menghela nafas.

Menerima teguran ini, seakan-akan menerima teguran senyap daripada Allah, dengan bicara-Nya yang lebut....

"Wahai Hilal, bergeraklah mencari redha-Ku, mencari ilmu-Ku, menjadi hamba-Ku, dengan kekuatan (bersungguh-sungguh)."

Alhamdulillah, Allah itu Maha Penyayang.

Mari kita bersama-sama duduk bermuhasabah, mengkoreksi diri dan menjadi kuat!



Petikan dari buku Kembara Hamba Mencari Cahaya.
Langit Ilahi 2.
Karya Hilal Asyraf.

Sunday, May 8, 2011

Hadith Ghulam

Firman Allah subhanahu wa ta'ala;

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, [al Buruj, 85:1-5]

Potongan surah al-Buruj, ayat 1 hingga 5 tersebut menceritakan sebuah kisah ahli sihir, rahib, anak muda (ghulam), dan orang-orang yang dilemparkan ke parit. Ia berkait rapat dengan hadith yang akan dibincangkan selepas ini.

Di bawah merupakan sebuah hadith yang dikenali sebagai "Hadith Ghulam".

وَعَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « كَانَ مَلِكٌ فيِمَنْ كَانَ قبْلَكُمْ، وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ ، فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِك : إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابعَثْ إِلَيَّ غُلاَماً أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ ، فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلاَماً يعَلِّمُهُ ، وَكَانَ في طَريقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ، فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلاَمهُ فأَعْجَبهُ ، وَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بالرَّاهِب وَقَعَدَ إِلَيْه ، فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ ، فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فقال : إِذَا خَشِيتَ السَّاحِر فَقُلْ : حبَسَنِي أَهْلي ، وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ: حَبَسَنِي السَّاحرُ .

فَبيْنَمَا هُو عَلَى ذَلِكَ إذْ أتَى عَلَى دابَّةٍ عظِيمَة قدْ حَبَسَت النَّاس فقال : اليوْمَ أعْلَمُ السَّاحِرُ أفْضَل أم الرَّاهبُ أفْضلَ ؟ فأخَذَ حجَراً فقالَ : اللهُمَّ إنْ كان أمْرُ الرَّاهب أحَبَّ إلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فاقتُلْ هَذِهِ الدَّابَّة حتَّى يمْضِيَ النَّاسُ ، فرَماها فقتَلَها ومَضى النَّاسُ، فأتَى الرَّاهب فأخبَرهُ . فقال لهُ الرَّاهبُ : أىْ بُنيَّ أَنْتَ اليوْمَ أفْضلُ منِّي ، قدْ بلَغَ مِنْ أمْركَ مَا أَرَى ، وإِنَّكَ ستُبْتَلَى ، فإنِ ابْتُليتَ فَلاَ تدُلَّ عليَّ ، وكانَ الغُلامُ يبْرئُ الأكْمةَ والأبرصَ ، ويدَاوي النَّاس مِنْ سائِرِ الأدوَاءِ . فَسَمعَ جلِيسٌ للملِكِ كانَ قدْ عمِىَ، فأتَاهُ بهداياَ كثيرَةٍ فقال : ما ههُنَا لك أجْمَعُ إنْ أنْتَ شفَيْتني ، فقال إنِّي لا أشفِي أحَداً، إِنَّمَا يشْفِي الله تعَالى، فإنْ آمنْتَ بِاللَّهِ تعَالَى دعوْتُ الله فشَفاكَ ، فآمَنَ باللَّه تعَالى فشفَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ، فأتَى المَلِكَ فجَلَس إليْهِ كما كانَ يجْلِسُ فقالَ لَهُ المَلكُ : منْ ردَّ علَيْك بصَرك؟ قال : ربِّي . قَالَ: ولكَ ربٌّ غيْرِي ؟، قَالَ : رَبِّي وربُّكَ الله ، فأَخَذَهُ فلَمْ يزلْ يُعذِّبُهُ حتَّى دلَّ عَلَى الغُلاَمِ فجئَ بِالغُلاَمِ ، فقال لهُ المَلكُ : أىْ بُنَيَّ قدْ بَلَغَ منْ سِحْرِك مَا تبْرئُ الأكمَهَ والأبرَصَ وتَفْعلُ وَتفْعَلُ فقالَ : إِنَّي لا أشْفي أَحَداً ، إنَّما يشْفي الله تَعَالَى، فأخَذَهُ فَلَمْ يزَلْ يعذِّبُهُ حتَّى دلَّ عَلَى الرَّاهبِ ، فجِئ بالرَّاهِبِ فقيل لَهُ : ارجَعْ عنْ دِينكَ، فأبَى ، فدَعا بالمنْشَار فوُضِع المنْشَارُ في مفْرقِ رأْسِهِ، فشقَّهُ حتَّى وقَعَ شقَّاهُ ، ثُمَّ جِئ بجَلِيسِ المَلكِ فقِلَ لَهُ : ارجِعْ عنْ دينِكَ فأبَى ، فوُضِعَ المنْشَارُ في مفْرِقِ رَأسِهِ ، فشقَّهُ به حتَّى وقَع شقَّاهُ ، ثُمَّ جئ بالغُلامِ فقِيل لَهُ : ارجِعْ عنْ دينِكَ ، فأبَى ، فدَفعَهُ إِلَى نَفَرٍ منْ أصْحابِهِ فقال : اذهبُوا بِهِ إِلَى جبَلِ كَذَا وكذَا فاصعدُوا بِهِ الجبلَ ، فـإذَا بلغتُمْ ذروتهُ فإنْ رجعَ عنْ دينِهِ وإِلاَّ فاطرَحوهُ فذهبُوا به فصعدُوا بهِ الجَبَل فقال : اللَّهُمَّ اكفنِيهمْ بمَا شئْت ، فرجَف بِهمُ الجَبَلُ فسَقطُوا ، وجَاءَ يمْشي إِلَى المَلِكِ ، فقالَ لَهُ المَلكُ : ما فَعَلَ أَصحَابكَ ؟ فقالَ : كفانيهِمُ الله تعالَى ، فدفعَهُ إِلَى نَفَرَ منْ أصْحَابِهِ فقال : اذهبُوا بِهِ فاحملُوه في قُرقُور وَتَوسَّطُوا بِهِ البحْرَ ، فإنْ رَجَعَ عنْ دينِهِ وإلاَّ فَاقْذفُوهُ ، فذَهبُوا بِهِ فقال : اللَّهُمَّ اكفنِيهمْ بمَا شِئْت ، فانكَفَأَتْ بِهِمُ السَّفينةُ فغرِقوا ، وجَاءَ يمْشِي إِلَى المَلِك . فقالَ لَهُ الملِكُ : ما فَعَلَ أَصحَابكَ ؟ فقال : كفانِيهمُ الله تعالَى . فقالَ للمَلِكِ إنَّك لسْتَ بقَاتِلِي حتَّى تفْعلَ ما آمُركَ بِهِ . قال : ما هُوَ ؟ قال : تجْمَعُ النَّاس في صَعيدٍ واحدٍ ، وتصلُبُني عَلَى جذْعٍ ، ثُمَّ خُذ سهْماً مِنْ كنَانتِي ، ثُمَّ ضعِ السَّهْمِ في كَبدِ القَوْسِ ثُمَّ قُل : بسْمِ اللَّهِ ربِّ الغُلاَمِ ثُمَّ ارمِنِي ، فإنَّكَ إذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتنِي . فجَمَع النَّاس في صَعيدٍ واحِدٍ ، وصلَبَهُ عَلَى جذْعٍ ، ثُمَّ أَخَذَ سهْماً منْ كنَانَتِهِ ، ثُمَّ وضَعَ السَّهمَ في كبِدِ القَوْسِ، ثُمَّ قَالَ : بِسْم اللَّهِ رَبِّ الغُلامِ ، ثُمَّ رمَاهُ فَوقَعَ السَّهمُ في صُدْغِهِ ، فَوضَعَ يدَهُ في صُدْغِهِ فمَاتَ . فقَالَ النَّاسُ : آمَنَّا بِرَبِّ الغُلاَمِ ، فَأُتِىَ المَلكُ فَقِيلُ لَهُ : أَرَأَيْت ما كُنْت تحْذَر قَدْ وَاللَّه نَزَلَ بِك حَذرُكَ . قدْ آمنَ النَّاسُ . فأَمَرَ بِالأخدُودِ بأفْوَاهِ السِّكك فخُدَّتَ وَأضْرِمَ فِيها النيرانُ وقالَ : مَنْ لَمْ يرْجَعْ عنْ دينِهِ فأقْحمُوهُ فِيهَا أوْ قيلَ لَهُ : اقْتَحمْ ، ففعَلُوا حتَّى جَاءتِ امرَأَةٌ ومعَهَا صَبِيٌّ لهَا ، فَتقَاعَسَت أنْ تَقعَ فِيهَا ، فقال لَهَا الغُلاَمُ : يا أمَّاهْ اصبِرِي فَإِنَّكَ عَلَي الحَقِّ » روَاهُ مُسْلَمٌ .

« ذرْوةُ الجَبلِ » : أعْلاهُ ، وَهي بكَسْر الذَّال المعْجمَة وضمها و « القُرْقورُ » بضَمِّ القَافَيْن : نوْعٌ منْ السُّفُن و « الصَّعِيدُ » هُنا : الأرضُ البارزَةُ و «الأخْدُودُ»: الشُّقوقُ في الأرْضِ كالنَّهْرِ الصَّغيرِ و « أُضرِمَ » أوقدَ « وانكفَأَت» أي : انقلبَتْ و « تقاعسَت » توقَّفتْ وجبُنتْ .

Dari Suhaib bahawa Rasulullah saw. pernah bercerita:

Di zaman sebelum kamu dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang sihir. Bila tukang sihir tersebut merasa dirinya telah tua, dia berkata kepada raja tersebut, “Aku telah tua. Carilah seorang budak (yang paling cerdik)*[1] yang boleh aku ajarkan kepadanya sihirku”. Lalu dicari seorang budak dan tukang sihir tersebut mengajarkan kepadanya ilmu sihirnya.

Di pertengahan jalan menuju ke tempat belajarnya, terdapat seorang rahib. Budak tersebut telah duduk sebentar mendengar ajaran rahib tersebut dan merasa seronok dengannya. Selepas kali tersebut, setiap kali melalui tempat rahib, budak tersebut akan berhenti dan mendengar ajarannya. Akhirnya bila tiba kepada tukang sihir, ia dipukul (kerana terlambat). Lalu ia mengadu kepada rahib. Rahib berkata kepadanya:

“Jika kamu takutkan tukang sihir, katakan kepadanya bahawa ibu bapaku menahanku (di rumah), jika kamu takutkan ibu bapamu (kerana lewat pulang), katakan kepada mereka berdua bahawa tukang sihir telah menahanku.”

Waktu berlalu dan pada suatu hari budak tersebut telah bertemu dengan seekor binatang besar (singa)* yang menghalang laluan orang ramai. Budak tersebut berkata di dalam hatinya, “Pada hari ini aku akan tahu siapakah yang lebih hebat, tukang sihir atau rahib”. Lalu diambilnya seketul batu dan dibaca: “Ya Tuhan, jika sekiranya rahib lebih engkau cintai dari tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini dan berilah laluan kepada orang lain.”

Lalu dilontar batu tersebut dan binatang tersebut pun mati. (Orang ramai sangat kagum dengan budak tersebut dan mengatakan dia mempunyai ilmu yang kita semua tidak mengetahuinya)*.

Perkara tersebut diceritakan kepada rahib. Rahib berkata padanya; Engkau pada hari ini telah menjadi lebih hebat dariku. Engkau telah sampai ke peringkat yang aku dapat lihat sekarang. Tapi ingat, Engkau nanti akan diuji. Apabila engkau diuji oleh Allah, maka jangan sekali-kali engkau memberitahu tentangku.

Budak tersebut berjaya mengubat penyakit kusta dan sopak. Dia juga dapat mengubat semua penyakit yang dihidapi oleh orang ramai. Suatu ketika seorang yang dekat dengan raja telah terkena satu penyakit sehingga buta matanya. Apabila mendengar tentang kehebatan budak tersebut dia telah membawa hadiah yang banyak. Dia berkata kepada budak tersebut; semua ini untukmu jika engkau dapat menyembuhkan mataku.

Budak berkata kepadanya:

“Aku tidak mampu menyembuhkan sesiapa. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jika engkau beriman dan percaya kepada Allah, aku akan berdoa dan Allah akan menyembuhkan penyakitmu.

Lalu si pembesar buta tersebut percaya dan beriman kepada Allah. Budak tersebut mendoakan untuknya dan matanya pun sembuh seperti sediakala.

Pembesar tersebut datang seperti biasa kepada raja. Raja terkejut dan bertanya kepadanya; Siapa yang mengembalikan penglihatanmu? Kata pembesar tersebut: Tuhanku. Raja sangat marah dan mengatakan: Ada ke tuhan lain selain dariku?? Lalu pembesar tersebut ditangkap dan disiksa hingga dia pun membongkarkan ajaran budak tersebut. Budak tersebut dibawa kepada raja lalu raja bertanya: “Aku telah mengetahui kehebatanmu, sekarang kamu dapat menyembuhkan penyakit itu dan ini dan dapat melakukan itu dan ini”.

Lalu budak itu menjawab, “Aku tidak dapat menyembuhkan sesiapa. Hanya yang dapat menyembuhkan ialah Allah. Lalu ia pun ditangkap dan terus di siksa sehinggalah ia pun membongkarkan rahsia rahib (kerana tidak tahan dengan siksaan).

Lalu rahib pun ditangkap. Ia diarahkan supaya meninggalkan agamanya tetapi rahib menolak. Lalu dibawa gergaji dan diletakkan di atas kepalanya dan digergaji, tubuhnya terbelah dua dan keduanya melerai jatuh ke bumi.

Budak tersebut lalu dibawa lagi kepada raja. Raja berkata, “Balik semula kepada agama asalmu”. Budak menolak lalu raja memanggil sebahagian dari kumpulannya dan dikatakan kepada mereka: Bawa budak ini ke bukit sekian-sekian dan jika sekiranya ia tetap enggan, campakkan dan atas bukit tersebut. Lalu mereka membawanya ke atas bukit. Tiba di sana, budak berdoa kepada Allah:

Ya Allah, tolonglah aku dengan cara yang engkau kehendaki.

Tiba-tiba bukit bergegar dan jatuh kesemua orang-orang raja tersebut. Budak balik berjalan kepada raja. Raja bertanya; Mana dia kawan-kawanku? jawab budak: Allah telah menolongku menghadapi mereka. Lalu raja memanggil sebahagian lagi kumpulannya dan berkata: Bawa budak ini ke tengah laut. Jika ia enggan, campakkan dia ke dalam laut.

Bila tiba di tengah laut, budak tersebut berdoa dengan doa yang sama. Tiba-tiba perahu tenggelam dan semua kumpulan raja mati lemas. Budak balik semula kepada raja. Raja terkejut dan bertanya: Mana kawan-kawanku? Jawab budak: Allah telah menolongku menghadapi mereka.

Lalu budak tersebut berkata kepada raja: Kamu tidak mungkin akan dapat membunuhku sehinggalah kamu menurut apa yang aku minta. Tanya raja: Apa dia? Kata budak: Engkau kumpulkan semua orang ramai di satu padang, kamu ikatkan aku di pohon kurma. Kemudian engkau ambil satu dan panahku dan letakkan panah tersebut pada busurnya. Kemudian engkau baca: Dengan nama Allah, tuhan budak ini. Kemudian engkau panahlah aku. Kalau engkau melakukan begitu, kamu akan dapat membunuhku.

Lalu raja pun mengumpulkan orang ramai di satu padang. Budak itupun diikat pada sebatang pohon kurma. Kemudian diambil satu panah dan diletakkan pada busurnya. Lalu raja membaca: Dengan nama Allah, tuhan budak ini dan terus dipanahnya. Panah tersebut mengenai bawah telinganya. Perlahan-lahan budak meletakkan tangannya pada tempat panah tersebut dan terus meninggal dunia.

(Tiba-tiba orang ramai berkata: Budak ini mengetahui perkara yang kita tidak ketahui.)* “Kami percaya kepada tuhan budak ini”.

Raja menjadi kelam kabut dan dikatakan kepadanya, “Apakah tuanku tidak melihat apa yang tuanku takuti. Sesungguhnya, Demi Allah! Ia telah menimpa tuanku. Orang ramai telah semuanya beriman.”

Lalu raja menyuruh digali parit-parit di laluan-laluan orang ramai dan dinyalakan api di dalamnya. Sesiapa yang lalu akan diarahkan supaya kembali semula kepada agama asal. Jika tidak akan dicampakkan ke dalam parit tersebut.

Lalulah seorang wanita dengan seorang anak kecilnya (bayi). Wanita tersebut gementar takut dicampakkan ke dalam api tersebut. Tiba-tiba bayinya bercakap dan berkata kepada ibunya: Wahai ibu, sabarlah, engkau berada di atas kebenaran !

Hadis Riwayat Muslim (No.5327 Kitab Zuhud dan Raqa’iq) Tarmizi (No. 3263 Kitab Tafseer Al-Quran) dan Imam Ahmad. Hadis di sebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Riyadhus-Solihin di bawah Bab Sabar.

Di akhir riwayat, Imam Tarmizi menyatakan bahawa: Budak tersebut kemudiannya dikebumikan. Pada zaman Saiyidina Omar ra. telah ditemui mayatnya dalam keadaan tangannya masih diletakkan pada bawah telinganya yang masih luka. ALLAHUAKBAR!!

*[1] di dalam kurungan ialah beberapa tambahan yang ada di dalam riwayat Tarmizi.

sumber : buku Ghulam Dakwah, oleh Thoriq Ahmad.

artikel ini disiarkan sempena huraian hadith ghulam di dalam daurah Davangere pada 06/05/2011, yang dibentangkan oleh brothers from Mangalore.

Wednesday, May 4, 2011

Datang ...Jangan tak datang. ^_^

Assalamualaikum warga davangere,
dijemput anda semua menghadirkan diri ke Surau An-nur.

5 mei 2011 - selepas isyak- sesi 'SHARING WITH SENIOR MANGALORE'

6 mei 2011 - 3pm till 6pm - sesi 'BRING THE BEST OUT OF YOU'

Sunday, May 1, 2011

Simple formula to be the best muslim!

Being human, we all crave to have the best in life, to get the best in life, and to be the best in life. Don't we? How many times have these thoughts crawled in our brains?

"I want to be the best employee or the best student!" "I want to own the best mobile, the best car and be married to the best wife."

Dear brothers and sisters, as Muslims has the thought ever come to us that "I want to be the best Muslim?" Leave alone working for it, have we ever just thought about it?

Well, now that this topic has come up, give it a second thought. If you believed that to be the best of Muslims you need to spend your full day in the Masjid or fast everyday of your life, you were wrong!

Prophet Muhammad (peace be upon him) gave us a simple formula to be the best:
"The best amongst you is the one who learns the Qur'an and teaches it." (Al-Bukhari)

Subhan Allah, as simple as that! It doesn't require you to be on your prayer mat 24/7. No, the key is Allah's speech – the Qur'an.

Hold on to it even if it's by starting to read a page everyday (make sure you understand it). This is something that Allah has ordered in the Qur'an.

"And hold fast, all of you together, to the rope of Allah (i.e. the Quran), and be not divided among yourselves; and remember with gratitude Allah's favors on you..." (Qur'an, 3:103)

"And We have indeed made the Qur'an easy to understand and remember, then is there any that will remember (or receive admonition)? " (Qur'an, 54:17)

Benefits of reading the Qur'an:

• Fulfils an Islamic duty

The Prophet (peace be upon him) summarized the Religion in his statement: "The Religion is naseehah (sincerity)! " So the Companions asked, "For whom'" He replied: "For the sake of Allah, His Book, His Messenger, the leaders of the people, and their common folk." (Sahih Muslim)

Sincerity to the Book of Allah includes reciting it regularly, learning the rules of Tajweed and trying to beautify our recitation, understanding its meaning, Tafseer and the reasons for revelation, and most importantly affirming that it is the Truth, the perfect Speech of Allah and not part of the creation. We honor it by learning it, implementing it in our lives, teaching it and calling people towards it. So by reading and reflecting over the Qur'an, we fulfill an obligation and will Insha Allah be rewarded for that.

• Intercession on the Day of Judgment

The Prophet (peace be upon him) said: "Read the Qur'an, for verily it will come on the Day of Judgment as an intercessor for its upholders." (Sahih Muslim)

All those early mornings we spent reciting the Qur'an will Insha Allah bear its full fruit when it really matters: the Day of Judgment. We can't even imagine how it will be, when the Qur'an will intercede for those who honored it.

May Allah make us among them, Aameen.

• How much in 5 minutes?

I'm sure you're familiar with the famous Hadith, "Whoever reads a letter from the Book of Allah, he will have a reward. And that reward will be multiplied by ten. I am not saying that "Alif, Laam, Meem" is a letter, rather I am saying that "Alif" is a letter, "Laam" is a letter and "Meem" is a letter." (Al-Tirmidhi)

Subhan Allah, can you imagine the weight of good deeds that will be added to your right side by just reciting one verse? This is really a blessing for all of us..

There is no end to the benefits of reading the Qur'an. Also, our wisdom and thoughts develop positively, giving us a clear and intellectual understanding of life if we seek guidance from the Qur'an, the Book of our Creator.

May Allah make us among the people of the Qur'an and make the Qur'an a witness for us on the Day of Judgment and not against us.

So go ahead, learn and teach the Qur'an, and make yourself among the best of Muslims Insha Allah.

Source: Saudi Gazette

Friday, March 11, 2011

Sabar dengan ujian, syukur dengan nikmat, tenang setiap keadaan

Assalamualaikum,

Allah s.w.t berfirman, mafhumnya,

“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali. Mereka itu ialah orang-orang yang dilimpahi dengan berbagai-bagai kebaikan dari Tuhan mereka serta rahmatNya dan mereka itulah orang-orang yang dapat petunjuk hidayatNya. (QS. al-Baqarah:155-157)

Monday, March 7, 2011

MENGAPA MANUSIA DICIPTAKAN

DAN APAKAH TANGGUNGJAWABNYA ?

Ahad,27hb feb, penyampai: Amirah Yusof

Sepanjang hidup kita pernah kah kita memikirkan soalan2 ini:-

1. Dari manakah kita datang ?

2. Mengapakah kita didatangkan ?

3. Kemanakah kesudahan kita ?

Maka untuk mencari jawapannya yang tepat perlulah kita merujuk kepada apa yang telah dinyatakan oleh Allah s.w.t di dalam al Quran al Karim.

Persoalan Pertama: Dari manakah kita datang ?

Dari Firman Allah s.w.t :-

Terjemahannya:

“ Wahai sekelian manusia, jika kamu masih ragu-ragu terhadap hari Qiamat, sesungguhnya Kami (Allah s.w.t) telah jadikan kamu dari tanah, kemudian daripada air mani, dari air mani menjadi darah sampai ia menjadi sepotong daging yang telah sempurna kejadiannya dan yang belum sempurna, supaya Kami beri keterangan kepada kamu dan Kami tetapkan di dalam kandungan (rahim) ibu mengikut kehendak Kami, sampailah waktu tertentu maka Kami keluarkan kamu dari kandungan ibumu menjadi kanak-kanak sampai kamu menjadi orang dewasa. Di antara kamu ada yang dimatikan dan ada yang dipanjangkan hidupnya sampai terlalu tua hingga tidak mengetahui apa-apa sedangkan sebelumnya kamu mengetahui

(Surah Al Hajj ayat 5)

Dengan meneliti ayat tersebut dapatlah kita mengetahui dari manakah datangnya kita.

Persoalan Kedua : Mengapakah kita didatangkan atau mengapa kita dijadikan oleh Allah s.w.t ?.

Firman Allah s.w.t :-

Terjemahannya:

Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah (mengabdikan) diri kepada Ku “

(Surah Adz Dzariyaat ayat 56)

Para ulamak muktabar telah menghuraikan pengertian ibadah itu dengan panjang lebar, yang mana perkataan ibadah ada kesyumulannya (kesempurnaannya) dan mempunyai ruang lingkup yang luas, tidak terbatas atau terhad semata-mata kepada fardhu solat, puasa, zakat dan haji sahaja. Tugas dan kewajipan kita di dunia ini adalah beribadah dan memperhambakan diri kepada Allah s.w.t berdasarkan kepada firmanNya tersebut.

Untuk menepati kehendak ibadah dalam seluruh hidup ini, maka setiap perbuatan yang kita lakukan itu mestilah semata-mata kerana Allah s.w.t serta mengikut betul-betul arahan yang telah disampaikan oleh Rasulullah s.a.w.

Jika demikian, segala makanan, minuman, pelajaran, pekerjaan, pendidikan jasmani, perkahwinan dan mendidik anak adalah merupakan jalan-jalan atau faktor-faktor yang membantu kita untuk taatkan Allah s.w.t serta teguh beribadah kepadaNya. Juga menjadikan kita bertaqarrub (menghampirkan diri) kepada Allah s.w.t. Ini bermakna rumah, sekolah, kilang, pejabat, sawah ladang, padang permainan , gedung perniagaan dan sebagainya adalah medan ibadah. Bahkan seluruh bumi Allah s.w.t ini merupakan ‘ masjid ‘, tempat menunaikan ibadah dalam realiti kehidupan.

Sehubungan dengan ini, Syaikh al Islam Ibn Taimiyyah telah menyatakan bahawa ‘ Setiap perkara yang telah Allah s.w.t perintahkan hamba-hambaNya melaksanakan adalah dikira sebagai ibadah. Ibadah yang meliputi apa sahaja yang diredhai oleh Allah s.w.t, samada tutur kata, perbuatan dan tingkah laku.

Professor Dr Yusuf Qaradhawi menyatakan di dalam bukunya ‘ al Ibadah Fi al Islam ‘ bahawa ‘ Sesungguhnya beribadah kepada Allah s.w.t tidaklah terhad kepada mengerjakan solah, puasa, zakat dan haji dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya seperti tilawah al Quran, zikir, berdoa, beristighfar dan sebagainya sebagaimana fahaman sesetengah golongan Islam (yang mendakwa Islam). Ramai yang telah menyangka bahawa apabila mereka telah menunaikan fardhu-fardhu dan syiar-syiar yang tersebut bererti mereka telah menyempurnakan haq Allah s.w.t terhadap mereka sepenuhnya. Mereka menyangka sudah sesesai menunaikan kewajipan ‘Ubudiyyah terhadap Allah s.w.t. Pada hal tanggapan tersebut adalah meleset dari hakikatnya yang sebenar ‘

Beliau membuat penjelasan lagi bahawa “ Tidaklah dikira ibadah kepada Allah s.w.t jika seseorang itu berfahaman aku solah, aku berpuasa, aku berzakat dan aku menunaikan haji tetapi aku bebas memakan daging babi, minum arak, makan riba’, berjudi serta menolak hukum-hukum syariat Allah s.w.t yang tidak sesuai dengan pandanganku. Juga tidak dikira ibadah kepada Allah s.w.t bagi orang yang menganggap ibadahnya hanya ketika berada di kawasan masjid, tetapi apabila ia keluar dari masjid dan menceburkan diri dalam bidang-bidang kehidupan lain , dia menjadi hamba kepada kehendak dirinya sendiri, bebas mengikut hawa nafsunya dengan tidak menghiraukan hukum-hukum Allah s.w.t.

Oleh kerana itu maka setiap orang yang terkeliru mestilah membetulkan kefahamannya dan kembali mengenal Islam dan ibadah kepada Allah s.w.t. Semoga seluruh kehidupannya berada dalam keredhaan Allah s.w.t. cukuplah bagi seseorang Muslim itu berfikir bahawa dia adalah khalifah Allah s.w.t di muka bumi ini untuk menjalankan tugas dan arahan Allah s.w.t semata-mata. Memadai dia berbuat demikian untuk mencorakkan segala jenis amalannya dengan corak Islam hinggalah segala perkataan, perbuatan dan diamnya itu menjadi ibadah kepada Allah s.w.t.

Menurut al Qaradhawi lagi, bahawa ibadah itu merangkumi dua tugas besar yang menjadi teras bagi semua perkara yang tersebut sebelum ini. Tugas tersebut adalah:

1. Menyeru kepada kemakrufan dan mencegah daripada kemungkaran

2. Berjihad ke jalan Allah s.w.t.

Menurut huraian asy Syahid Sayyid Qutb, bahawa kerja-kerja menyuruh kepada makruf serta mencegah mungkar tidak boleh dipandang ringan. Umat ini tidak berjaya selagi makruf tidak tertegak sebagai makruf dan mungkar tidak dimusnahkan sebagai mungkar. Untuk melaksanakan tugas yang besar ini maka perlulah kepada pembentukan Ummah. Ummah yang tertegak di atas dasar Iman kepada Allah s.w.t dan Persaudaraan kerana Allah s.w.t agar hukum-hukum Allah s.w.t terlaksana, kerja-kerja makruf berjalan dengan senang, kebenaran mengatasi kepalsuan, kebaikan sentiasa disokong dan kemungkaran sentiasa di tentang. Untuk sampai kepada ummah Islam sedemikian , maka jihad yang berterusan diperlukan dan mengikut jalan-jalan yang betul sebagaimana yang telah digariskan oleh Rasulullah s.a.w.

Persoalan Ketiga : Kemanakah kesudahan kita ?

Persoalan ini tidak memerlukan kepada huraian yang panjang kerana setiap orang menyedari asal usulnya serta mengetahui akan tugas dan kewajipannya. Maka InsyaAllah ia akan menyedari pula kemanakah kesudahannya. Walaupun demikian, jawapannya tetap telah dinyatakan oleh Allah s.w.t dalam firmanNya:-

Terjemahannya:

“ Sesungguhnya kepada Tuhan (Allah) kesudahan kamu (tempat kembali). Dialah yang membuatkan kamu tertawa dan Dia juga yang membuatkan kamu menangis. Dialah yang mematikan kamu dan menghidupkan kamu kembali “

(Surah An Najm ayat 42 – 44 )

Sumber: langitilahi.com